Senin, 09 Januari 2012
Sabtu, 07 Januari 2012
Si Sholeh Ke Surau
Shubuh, sayup suara tuhan memanggil
Gegap aku terbangun, masih mengumpulkan sisa nyawa yang terpanggil
Pergi ke surau, langkah ku percepat meniti krikil-krikil
Pengabdian telah usai, pulang
Langkah demi langkah terlewati
lirikku tak sengaja, menuju remah depan surau
sengaja, entah
ia membungkuk setiap pagi
sedikit membungkuk
sedikit terangkat
sedikit juga yang terlihat
ah,,,,itukah maksiat
nikmat
entahlah
satu kedip, itu nikmat
benarkah
tapi ku tak berkedip
satu, dua sampai empat
Gegap aku terbangun, masih mengumpulkan sisa nyawa yang terpanggil
Pergi ke surau, langkah ku percepat meniti krikil-krikil
Pengabdian telah usai, pulang
Langkah demi langkah terlewati
lirikku tak sengaja, menuju remah depan surau
sengaja, entah
ia membungkuk setiap pagi
sedikit membungkuk
sedikit terangkat
sedikit juga yang terlihat
ah,,,,itukah maksiat
nikmat
entahlah
satu kedip, itu nikmat
benarkah
tapi ku tak berkedip
satu, dua sampai empat
Puisi WS Rendra
Sajak Pertemuan Mahasiswa
Oleh : W.S. Rendra
Matahari terbit pagi inimencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana !
Jakarta 1 Desember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi
Potret Pembangunan dalam Puisi
Sajak ini dipersembahkan kepada para
mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan di dalam
salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh
Sumandjaja.
Puisi Chairil Anwar
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
1946
Puisi Chairil Anwar
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946
Selasa, 03 Januari 2012
Merdeka
binasa dalam merdeka
merdeka dalam penjara
penjara dalam suap
suap terbungkus dalam hadiah
negeriku dalam senja
senja tak berujung
senja yang terpatung
merdeka atau mati
merdeka sengsara
merdeka petaka
mati karena lapar
mati diri dibakar
karya Irwan BS. Qodim
merdeka dalam penjara
penjara dalam suap
suap terbungkus dalam hadiah
negeriku dalam senja
senja tak berujung
senja yang terpatung
merdeka atau mati
merdeka sengsara
merdeka petaka
mati karena lapar
mati diri dibakar
karya Irwan BS. Qodim
Langganan:
Postingan (Atom)
