Rabu, 14 Desember 2011

Kau


          untuk ieie

Terasa kelamku kembali terang
Mentariku yang dulu menjelma pelangi
Kini kembali binar cahayanya benderang
Bak mentari pagi
Ketika nama terukir diatas karang hidupku

Kau adalah samudera yang penuh anugerah
Kau setitik embun bagi bunga yang layu
Dada penuh bunga-bunga dimusim semi


                Karya Irwan BS. Qodim

Bunda

Kau adalah mentariku di gelapnya duniaku
Mentari kehidupanku
ketika pagi menyapa
Kehangatanmu selalu menyelimuti saat salju menerka
Bunda!
Kau lentera perjalananku
ketika jalanku gelap gulita
Bunda!
inginku menjadi tumpuanmu saat tua tiba
Meski tak kan terbayar jasa-jasa
yang kau torehkan
Bunda!
Maafkan daku!
durhaka padamu
Tuhan!
tempatkan bundaku di surgamu
seperti saat ia menaruhku
dalam pangkuan kasih sayangnya
Amin...


            karya Irwan BS. Qodim

PELANGI ASAM


PELANGI ASAM

Kemelut pelangi-pelangi kehidupan
Silih berganti dalam binar-binar  mentari berawan
Gerimis air mataku, mendung dalam kehampaan
Tetes darah sayatan ujung belati cinta

Ketika ku dengar selembar kabar
Air laut hambar
Air tak lagi mengalir
Dari  hulu ke hilir
Ketika mentariku,menjelma pelangi
Lenyap bersama hembusan angin semu
Pelangiku,
Indah warnamu,pesona tatapanmu
Sayang pergimu 
Tak ada manusia yang tahu
Sirna dalam bayang semu
Pelangiku
Andai ku tahu

Sejak binar mentari menyinari embun pagi
Sejak rembulan masih sabit
Tak kan sedu hingapi
Diri dalam kegelapan,
Masa yang terbuang sia
Tanpa asa yang membara

        Karya Irwan BS. Qodim

Nadi


Nadi

Tak pernah lelah
Terhenti
Berlahan
Itu pasti
Hanya mati
Tapi….
Tak tau pasti
Hanya,
Jika meniti
Tak hanya,
Jika menanti
Buah abadi
Hidup
Teka teki



Oleh Irwan Sayid Q.
Mahasiswa STKIP PGRI PO
PBSI C 2008

Minggu, 04 Desember 2011


GeGaBaH…

Resah rasaku wahai bedebah…!
Susah karenamu
Hatiku gelisah
Cintaa,,,,,!!!
Monyetttt…..
Setiaaaa,,,,!
Kucing….Sayang…..!!
Matamu…
Marahhhhku…berlimpah ruah Bedebah !
Harga mati tak terbeli dadaku wahai penjajah…!!
Dadamu serakah…!




“Preman”



Acap kali mereka datang
Tak ada hati yang terasa tenang
Hiruk pikuk para penjaja “wedang”
Terbirit membawa grobak usang
Seribu langkah
Itu pilihan yang mudah
Demi esok tetap menjaja jadah
Untuk buah hati dirumah
Yang tertangkap, grobak terangkut
Tak jarang hancur tersisa hanya baut
Ditanah lain
Berdiri gubuk- gubuk hunian
Perseteruan acap kali menghinggapi
Bukan senasib
Namun dengan yang lebih tinggi
Bukti saling memiliki
Meja hijau salah satu solusi
Namun hanya yang ber “saku”
Bisa tersenyum nan ayu
Sudah menjadi adat dari dulu
Bagi yang tak bersaku, hanya tangis pilu
Paksaan datang
Preman berseragam
Tak pernah tidak kekerasan
Hanya untuk melenyapkan
Hunian terkalahkan
Hingga kadang genderang perang
Terpaksa berdendang
Untuk mereka bertahan
Demi anak – anak mendatang
Yang didepan mereka hanya lawan
Tak lagi saudara atau teman
Bahkan bukan lagi yang memberi perlindungan
Keamanan untuk kalangan bawahan
Menyesalkan, selalu berulang dan terulang
Pihak yang berwenang bak pahlawan kesiangan

Korban terlanjur dikubur
Nasi terlanjur membubur.
 2010