Acap kali mereka datang
Tak ada hati yang terasa tenang
Hiruk pikuk para penjaja “wedang”
Terbirit membawa grobak usang
Seribu langkah
Itu pilihan yang mudah
Demi esok tetap menjaja jadah
Untuk buah hati dirumah
Yang tertangkap, grobak terangkut
Tak jarang hancur tersisa hanya baut
Ditanah lain
Berdiri gubuk- gubuk hunian
Perseteruan acap kali menghinggapi
Bukan senasib
Namun dengan yang lebih tinggi
Bukti saling memiliki
Meja hijau salah satu solusi
Namun hanya yang ber “saku”
Bisa tersenyum nan ayu
Sudah menjadi adat dari dulu
Bagi yang tak bersaku, hanya tangis pilu
Paksaan datang
Preman berseragam
Tak pernah tidak kekerasan
Hanya untuk melenyapkan
Hunian terkalahkan
Hingga kadang genderang perang
Terpaksa berdendang
Untuk mereka bertahan
Demi anak – anak mendatang
Yang didepan mereka hanya lawan
Tak lagi saudara atau teman
Bahkan bukan lagi yang memberi perlindungan
Keamanan untuk kalangan bawahan
Menyesalkan, selalu berulang dan terulang
Pihak yang berwenang bak pahlawan kesiangan
Korban terlanjur dikubur
Nasi terlanjur membubur.
2010